Update Banjir Sulbar: Warga Ikat Rumahnya ke Pohon

Demi mengantisipasi supaya rumahnya tak terseret banjir yang mana airnya makin meninggi, warga Desa Bondra, Kabupaten Polewali, Mandar, Sulawesi Barat, mengikat rumahnya ke pohon. Menurut pantauan yang dilakukan oleh CNN Indonesia, permukimam warga di desa itu terendam banjir sampai dengan setinggi 50-60 cm atau kira-kira selutut orang dewasa.

Warga Ikat Rumahnya di Pohon

“Warga mengikat rumahnya di pohon agar tidak terseret air banjir saat Sungai Mapili tak semakin meluap dan arusnya makin kencang,” ungkap Alif, seorang warga setempat seperti dikutip dari CNN Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa akses jalan di desanya sudah tak tampak lagi karena terendam banjir, dari luapan air sungai itu.

Warga yang lainnya, Yusrang, berkata bahwa selain desa Bondra, juga ada desa lainnya yang terendam air yaitu Desa Segerang. Desa itu berada di sekitar Sungai Mapili juga. Beberapa warga lainnya juga Nampak panic karena adanya banjir dari hulu sungai tersebut yang terus saja terjadi. Selama 2 hari terakhir, hujan turun di wilayah Polewali Mandar tersebut.

Ia juga mengatakan bahwa masyarakat sudah memantau kondisi Bendungan Sekka Sekka yang letaknya di hulu Sungai Mapili, dikarenakan air dari bendungan tersebut terus naik. “Beberapa masyarakat yang sudah merasa risau sampai dengan sore tadi memantau Bendungan Sekka Sekka yang dalam status siaga dua,” ungkapnya. Ia juga menambahkan ketinggian airnya mencapai 180-185 mercu. Ketinggian itu disebutkannya masih ditetapkan dalam kondisi siaga 2.

“Warga tetap waspada karena jika air sudah berada di ketinggian 200 mercu, maka jadi kondisi siaga satu, semoga hujan di hulu bisa berhenti,” imbuhnya lagi.

Banjir Melanda Wilayah Lainnya di Sulawesi Barat

Selain itu, maish ada sekitar 50 km dari Polewali Mandar, terjadi banjir yang diakibatkan hujan deras disertai dengan angina kencang yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Pemantauan di Majene, hari Minggu (12/1) kemairn, banjir berhasil merendam sejumlah fasilitas pemerintah dan juga fasilitas umum maupun di sekolah serta di kampus di kota Majene itu.

Tak Cuma itu , banjir pun menggenangi pemukiman warga setempat sampai air setinggi lutut orang dewasa. Banjir pun sempat merendam jalur Trans Sulawesi yang mana menghubungkan Provinsi Sulsel dan Sulbar yang mana melintas di kota Majene itu. Hujan yang sangat deras yang melanda Majene selama 2 hari terakhir itu membuat roboh talud dan juga pagar Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Majene ke jalan. Tak Cuma itu, hujan deras juga disertai dengan angin kencang. Sehingga keadaan itu membuat pepohonan di jalur Trans Sulawesi Kabupaten Majene tumbang ke jalan.

Sementara itu, Bupati Majene, Fahmi Massiara mengatakan bahwa fenomena angin Monsun Australia yang mana diprediksi oleh BMKG (Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika) jadi penyebab bencana tersebut dan berpengaruh sampai ke Majene.

Syam, seorang warga Majene, mengatakan bahwa tak Cuma masyarakat di wilayah perkotaan saja yang diterjang banjir dan disertai angina kencang yang melanda. Lanjutnya, sejumlah rumah warga yang ada di pesisir pantai wilayah Kabupaten Majene pun terkena dampak gelombang pasang. Sehingga mereka sampai dengan saat ini masih membutuhkan bantuan dari pemerintah.

“Sudah ada 10 unit rumah masyarakat nelayan yang ada di wilayah Dusun Sumakuyu, Desa Onang, Kecamatan Tubo Sendana yang rusak karena gelombang pasang yang terjadi,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *