Ratusan Ikan Mati Secara Misterius, Walking Shark di Maluku Terancam Juga

Fenomena misterius kematian ratusan ekor ikan yang ada di perairan Provinsi Maluku Utara 4 hari belakangan ini berdampak pada eksistensi hewan endemic hiu berjalan atau walking shark (Hemyscillium Halmahera).

Walking Shark Terancam

Hewan yang mana diperkirakan populasinya terbatas ini ditemukan ikut mati juga bersama dengan ratusan ekor biota laut lainnya, penyelam-penyelam mengaku bahwa mereka khawatir dengan kondisi walking shark yang juga jadi ikon diving Kota Ternate tersebut. Walking Shark atau hiu berjalan ini adalah hewan endemic Maluku Utara yang keberadaannya ditemukan tepatnya di perairan Ternate dan juga Pulau Halmahera.

Matinya Walking Shark ini pasalnya disinyalir tak wajar. Dan pertama kali kasus kematian hiu berjalan ini ditemukan oleh penyelam togel online 2020 dari Nasijaha Diving Club bersama dengan rekannya di Pantai Falajawa, Kota Ternate Tengah. Mereka menemukan banyak ikan mati di permukaan sampai dengan kedalaman 11 meter. Jenis ikan yang mana ditemukan mati tidak lazim. Dan ikan-ikan tersebut misalnya, damsel fish, trumpet fish, scorpion fish, goat fish, Pontoh’s pygmy seahorse, dan gurita sampai dengan Walking Shark.

Seahorse pasalnya sempat sekarat beberapa menit saja, lalu mati. Walking Shark ada satu ekor yang mati, ukurannya masih kecil,” begitu lah kata Willwuth dilansir dari CNN Indonesia Kamis (27/2).

Tak Cuma di Pantai Falajawa, tim selam Nasijaha pun menyelam di Taman Nukila Point yang mana jaraknya terpisah 2 km. di Nukila, misalnya, jumlah ikan yang mati di sana malah jauh lebih banyak lagi. Perubahan warna air laut jadi kecoklatan, sehingga membuat visibility di daerah itu amat sangat buruk.

“Nyelam siang tapi harus pakai senter. Ini tak biasa,” imbuhnya.

Adita Agoes, seorang dive master dari Nasijaha mengaku bahwa ia khawatir dengan eksistensi Walking Shark di tengah kondisi buruk ini. Apalagi di hari keempat fenomena tersebut terjadi, hari Kamis (27/2) tadi, belum ada tanda-tanda kondisi laut yang terletak di pesisir Ternate membaik. “Kami masih akan terus menyelam untuk mengecek. Mudah-mudahan taka da lagi Walking Shark yang mati,” ucapnya.

Fenomena matinya ratusan ekor ikan dan juga perubahan warna air laut ini pasalnya pertama kalinya terjadi di perairan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan sejak hari Senin (24/2) kemarin. Fenomena ini kemudian muncul juga di perairan Ternate. Ikan yang mati di sana cukup banyak sehingga membuat pesisir Ternate dan Makian berbau busuk bangkai ikan-ikan.

DLH Prov Maluku Utara Duga Karena Banyaknya Kandungan Fostat

Sementara itu tanggapan datang dari Pihak Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku Utara. Mereka mengimbau tidak memakan ikan-ikan yang mana ditemukan mati di pesisir pantai itu. Warga pun diminta tidak membuang limbah detergen ke laut. DLH menduga bahwa salah satu penyebab fenomena itu adalah banyaknya kandungan fostat yang berakibat pada terjadinya ledakan alga (harmful alga blooming).

“Sekarang ini sempel ikan dan air laut telah dikirim ke laboratorium di Manado untuk kemudian dicari tahu penyebab pastinya ikan-ikan ini. Paling cepat satu minggu hasilnya baru ketahuan,” ungkap Fachruddin Tukuboya, ungkap kepala DLH Maluku Utara.

Fenomena ini tentu membuat patah hati para pecinta laut dan warga Indonesia juga karena Walking Shark dan terumbu karang di sana merupakan surga bawah laut Ternate. Walking Shark juga salah satu biota endemic langka yang ditemukan ilmuwan Australia, Gerrad Allen di tahun 2008 silam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *